Monday, March 26, 2007

Sebuah kampung bernama Besilam


Tersebutlah sebuah kampung bernama Besilam. Letaknya, nun, di Tanjungpura sekitar 60 km dari Medan Sumatera Utara. Kampung tersebut sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan dusun-dusun lain di pelosok Indonesia: bersahaja di tengah kerimbunan pepohonan. Sebagian cat rumah panggung memudar disengat masa. Lalu apa yang istimewa dari kampung tersebut? Besilam memiliki kekayaan makna ketika sederhana. Tak percaya?


Simaklah kisah berikut: Syahdan seorang ulama legendaris, bernama Syeikh Abdul Wahab Rokan, hadir di Sumatera. Ia terdidik dengan ilmu agama sedari kecil. Perangainya berbeda dibandingkan kebanyakan kanak-kanak. Ia lebih suka mengasingkan diri dengan kitab agama daripada bermain. Dibandingkan teman seperguruan, Abdul Wahab Rokan sangat patuh dan menghormati guru, sebagai sumber ilmu. Tak mengherankan, saat menuntut ilmu di Hijaz (Mekkah), ia dinyatakan lulus dan berhak menerima ijazah tarekat Naqsyahbandiyah. Dengan demikian, Wahab berhak menyebarkan tarekat yang mendidik keras pengikutnya di jalan agama tersebut.

Sepulang dari Mekkah, Wahab bersahabat dengan Raja Deli, bahkan, dihadiahkan kawasan liar untuk pemukimannya. Wahab pun membangun kawasan itu dengan membuka perkampungan. Ia menabalkan salah satu nama pintu di Masjidil Haram kepada kampung tersebut: Babussalam. Babussalam yang lama-kelamaan lebih dikenal dengan panggilan Besilam segera menjadi pusat perhatian. Namanya, seperti juga pendirinya, harum dan berwibawa. Tak hanya di Sumatera, nama tersebut berbinar hingga ke Malaysia. Kenapa?

Seperti jamaknya kisah para syeikh di Sumatera, Abdul Wahab Rokan menjadikan kampung yang dibukanya itu, sebagai pusat peribadatan. Di sana, di balik rimbunan pepohonan, ia mengajarkan jalan ruhani menuju-Nya melalui tarekat Naqsyabandiyah. Muridnya mengalir dari pelbagai penjuru: mulai dari pelosok di Sumatera hingga Malaysia. Babussalam kini tidak sekadar sejarah. Siapapun yang berkunjung ke sana, dan mampu melihat dengan mata hati, niscaya menyaksikan tanda-tanda kemahabesaran-Nya.

Simaklah: penduduk lama Medan, hingga kini mensandingkan imej jalan ruhani terhadap Babussalam. Kendati pendirinya telah hampir seratus tahun wafat, ritual kehidupannya tetap seperti semula ada: di tengah keterpencilan dan kerimbunan pepohonan, para pencahari jalan ruhani, hingga kini tetap menuju ke sana. Seperti para pendahulu, murid-murid tarekat mengalir dari pelbagai penjuru. Dengan bimbingan mursyid, mereka mengasingkan diri di rumah panggung, menuju pencaharian jalan kepada-Nya. Laku mereka sehari-hari ialah mencelupkan ruh kepada lautan dzikir: Allah, Allah, Allah, Allah.

Di saat adzan berkumandang, para pencahari jalan kepada-Nya itu, keluar dari rumah-rumah panggung. Mereka berduyun dengan wajah yang bercahaya menuju ke masjid. Sedangkan penduduk setempat segera menghentikan kesibukan perniagaan, untuk menunaikan shalat berjamaah. Semua ini menjadi karunia-Nya terhadap pendiri kampung yang hingga kini bersisa kendati Abdul Wahab Rokan telah wafat. Begitulah ritus kehidupan sehari-hari di Babussalam. Kehidupan mengalir damai. Tiada gegas kesibukan.

Tiada penyakit hati yang menyembul: mengapa si polan kaya, saya tidak. Kenapa si X menjadi penguasa padahal tidak ada apa-apanya. Penyakit sosial semacam itu teredam dengan laku peribadatan dan lautan dzikir. Pernahkah Anda menyaksikan kampung yang berjarak dari gemuruh penyakit sosial? Saya beruntung pernah ke sana. Seseorang dari gemuruh kehidupan metropolitan ketika sejenak singgah ke sana, merasakan keteduhan yang asing, kesejukan peribadatan. Maka bukalah pori-pori batin, resapi atmosfer yang menaungi kampung yang senantiasa berdzikir itu, niscaya kita merasakan keteduhan, kedamaian, apapun namanya tetapi sesuatu yang hilang ditelan keingaran Jakarta.

Kenapa Babussalam mampu memberikan atmosfer keteduhan? Pertanyaan yang menggelitik itu, menyebabkan saya semakin mempercayai kemahakuasaan-Nya. Gaya hidup yang memuja kehidupan duniawi menyebabkan kita serakah, bahkan, sulit membedakan yang hak dan batil. Di saat yang batil merasuki raga, dapatkah pori-pori ini menerima rangsangan dzikir? Ketika kegenitan duniawi menghalangi pandangan, mampukah mata hati menyaksikan aura ilahiyah? Kita seringkali sulit membedakannya.

Penyebabnya kita semakin tidak mengetahui mana yang hak dan batil. Perspektif hidup kita, ah pernahkan kita merenungkan betapa kita sangat didominasi budaya Eropah sejak abad pertengahan , dengan datuk-datuk pemikir sejak Descrates hingga Nicolo Machiaveli yang memuja rasionalitas, hak individual, hingga ukuran kehidupan berwujud pada materialisme, menyebabkan kita tidak mampu melihat dengan mata hati. Kita pun membangun rumah yang serba glamour seperti istana. Tapi, adakah seseorang yang terbiasa membuka pori-pori batin dan melihat dengan mati hati, betah di istana tersebut?

Rumah istana yang tidak mendapatkan cahaya-Nya justru senantiasa suram (pernahkah Anda menyaksikan rumah seperti istana tetapi merasa rangsang batin tidak tersentuh? Sebaliknya rumah mungil yang justru menawarkan kedamaian?) Bila Babussalam yang hanya kampung kecil menawarkan keteduhan, agaknya, karena ia menjadi muara dzikir. Laku ibadah menjadi denyut kehidupannya. Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Robbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang yang mati (HR. Bukhari dan Muslim). Di hadis yang lain, kita pun menyimak pernyataan Rasul SAW, malaikat menghampiri setiap majelis dzikir.

Rasul SAW (HR Adailami) pun memperumpamakan seseorang yang tawakkal dalam dzikirnya laiknya dinaungi cahaya-Nya. Apa makna semua perumpamaan itu? Bila penduduk suatu negeri hidup dalam laku ibadah dan etika keislaman, insya Allah atmosfer di negeri itu teduh. Kampung yang berdzikir seperti Babussalam, kota suci yang menjadi pusat peribadatan seperti Mekkah dan Madinah, membuktikan tesis tersebut. Bahkan Mekkah yang saya andaikan sebagai simbol pergulatan kehidupan di dunia, senantiasa menawarkan kesejukan zamzam bagi pejalan ruhani.

Di tengah pergulatan hidup di sekeliling Masjidil Haram yang ingar dengan perniagaan, wahai pejalan ruhani yang dahaga, menyisihlah ke Masjidil Haram. Teguk keteduhan, kesejukan, dan keagungan yang menjadi atmosfer Masjid Haram. Apalagi di Masjid Nabawi yang laiknya sepotong surga di muka bumi ini. Semua itu menyebabkan pejalan ruhani yang dahaga senantiasa memiliki kerinduan, senantiasa ingin kembali ke kedua kota suci tersebut, untuk membasuh ruhnya dengan atmosfer ilahiyah.

Bila Babussalam, Mekkah maupun Madinah, mampu dinaungi atmosfer dan aura ilahiyah, mengapa kita tidak menciptakannya mulai dari rumah sendiri? Membiasakan bersama anggota keluarga shalat berjamaah, membaca Alquran dan membentuk majlis dzikir bersama anggota keluarga, insya Allah membuat rumah yang semula suram akan bercahaya. Bila setiap rumah telah bercahaya, maka insya Allah Jakarta menyemburatkan atmosfer dan aura ilahiyah, menjadi ibukota yang damai!

5 Comments:

nizam said...

bagus gak nie

fakhruddin said...

inshaallah saya bercadang utk pergi melawat babussalam satu hari nnt..

Tajarussalim Blog said...

makasi infonya

fitri yana said...

aura ilahiyah :)
nyaman rasa'y berada disana

Asjuni yarni said...

Ini bid'ah yang nyata... dan tidak diragukan lagi ke bid'ahannya...
sesat banget...